Sekar Hubungi 24 Jam

Arti selamatan 3, 7, 40, 100, 1000 hari — dan cara menghitungnya

Orang Jawa tidak menyelesaikan duka dalam sehari. Ia dijadwalkan pelan-pelan: tiga hari, tujuh hari, empat puluh, seratus, setahun, seribu. Panduan ini menjelaskan makna tiap tahap, cara menghitung harinya, pandangan Islam tentangnya, dan satu hal yang jarang disadari: kalender duka ini sebenarnya adalah janji untuk kembali.

Tahap-tahap selamatan dan maknanya

Rangkaiannya delapan, dari hari pemakaman sampai hampir tiga tahun kemudian. Dalam tradisi Jawa, tahap-tahap ini memaknai kepergian sebagai proses bertahap — jiwa berpamitan pelan-pelan, dan yang ditinggalkan mengikhlaskan pelan-pelan pula.

SelamatanWaktuYang dimaknai
GeblagsurtanahHari wafatSelamatan pertama, digelar segera setelah pemakaman — pembuka seluruh rangkaian.
Nelung dinaHari ke-3Tiga hari pertama, saat rumah masih penuh. Doa untuk almarhum di awal perjalanannya.
Mitung dinaHari ke-7Penutup tujuh malam tahlilan. Setelah ini rumah mulai sepi — dan keluarga mulai benar-benar merasakan kehilangan.
MatangpuluhHari ke-40Penanda besar pertama. Empat puluh hari juga angka yang akrab dalam tradisi Islam untuk masa peralihan.
NyatusHari ke-100Seratus hari: duka mulai berdamai dengan hari-hari biasa.
Mendhak sepisanTahun ke-1 (Jawa)Peringatan tahun pertama, dihitung dengan kalender Jawa.
Mendhak pindhoTahun ke-2 (Jawa)Peringatan tahun kedua.
NyewuHari ke-1000Penutup rangkaian — biasanya yang paling besar. Secara simbolis, saat keluarga mengikhlaskan sepenuhnya.

Nama bisa sedikit berbeda antar daerah (surtanah, ngesur tanah, nelung ndina); urutannya sama.

Yang indah dari kalender ini bukan angkanya, tapi arahnya: jarak antar selamatan makin lama makin panjang. Tiga hari, lalu tujuh, lalu empat puluh — seperti napas yang pelan-pelan melandai. Tradisi ini seperti sudah tahu apa yang baru dikonfirmasi psikologi modern: duka tidak hilang, ia melonggar.

INTINYAKalender selamatan adalah cara Jawa mengatur napas duka: makin lama, makin longgar, sampai ikhlas.

Cara menghitung harinya

Ini yang paling sering ditanyakan — dan paling sering keliru. Kuncinya satu:

Aturan utama

Hari wafat dihitung sebagai hari pertama. Wafat hari Kamis berarti nelung dina jatuh hari Sabtu (Kamis-Jumat-Sabtu), dan mitung dina jatuh hari Rabu berikutnya.

Tradisi Jawa menghitungnya lebih presisi lagi: menggabungkan hari tujuh (Senin sampai Minggu) dengan pasaran lima (Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing). Karena itu sesepuh punya rumus-rumus warisan yang dihafal turun-temurun:

  • Lusarlu (telu lan telu) — nelung dina jatuh pada hari ketiga dan pasaran ketiga.
  • Tusaro (pitu lan loro) — mitung dina: hari ketujuh, pasaran kedua.
  • Masarma (lima lan lima) — matangpuluh: hari kelima, pasaran kelima.
  • Rosarma (loro lan lima) — nyatus: hari kedua, pasaran kelima.
  • Patsarpat (papat lan papat) — mendhak sepisan: hari keempat, pasaran keempat.
  • Nemsarma (enem lan lima) — nyewu: hari keenam, pasaran kelima.

Contohnya begini: seseorang wafat hari Kamis Pon. Nelung dina berarti hari ketiga dari Kamis (= Sabtu) dan pasaran ketiga dari Pon (= Kliwon): jatuh pada Sabtu Kliwon. Rumus yang sama berlaku untuk tahap-tahap berikutnya — angkanya saja yang berubah.

Praktisnya: kamu tidak harus menghitung sendiri. Sesepuh kampung, takmir masjid, atau mbah kaum biasanya yang menghitungkan — dan bagian dari adabnya memang bertanya kepada beliau-beliau. Yang penting kamu tahu prinsipnya, supaya tidak bingung kenapa "40 hari" tidak jatuh persis enam minggu kemudian.

INTINYAHari wafat = hari pertama. Sisanya, percayakan pada yang biasa menghitung.

Bagaimana Islam memandangnya

Di satu keluarga Solo yang sama, bisa ada yang menggelar tahlilan tujuh malam dan ada yang memilih cukup doa dalam sunyi. Keduanya mencintai yang berpulang dengan cara yang sama besar.

Perlu dikatakan jujur: ada perbedaan pandangan, dan keduanya hidup berdampingan di kota ini.

  • Kalangan Nahdlatul Ulama memandang selamatan kematian sebagai gabungan dua amalan yang dianjurkan: sedekah (jamuan untuk tetangga dan yang membutuhkan) dan majelis doa — tahlil, yasin, dan doa yang pahalanya dihadiahkan untuk almarhum. Tradisi Jawa memberi jadwalnya, Islam mengisi isinya.
  • Sebagian keluarga muslim lain memilih tidak menyelenggarakan rangkaian selamatan, dan mendoakan almarhum tanpa penjadwalan. Ini pilihan yang juga punya dasar dan patut dihormati.

Yang tidak diperdebatkan siapa pun: mendoakan orang tua yang telah wafat adalah amal anak yang terus mengalir (HR Muslim — doa anak saleh termasuk amal yang tidak terputus), dan memberi makan keluarga duka justru dicontohkan Nabi ﷺ. Selebihnya adalah soal cara, bukan soal cinta. Sekar sendiri menemani keluarga dengan kedua pilihan itu tanpa membedakan.

INTINYAPerbedaannya di jadwal dan bentuk. Yang sama: doa, sedekah, dan cinta yang tidak selesai di hari pemakaman.

Yang praktis: acara, undangan, dan biayanya

No. 1Apa yang terjadi di selamatan

Umumnya digelar malam hari sesudah maghrib atau isya: pembacaan tahlil dan Surah Yasin, doa untuk almarhum, lalu jamuan sederhana — sering berupa berkat (nasi beserta lauk yang dibawa pulang). Tamunya tetangga kanan-kiri, keluarga, dan jamaah masjid atau musala terdekat.

No. 2Berapa biayanya

Dari riset kami: tahlilan tujuh malam pertama dengan ±100 tamu per malam menghabiskan sekitar Rp2 juta per malam — sekitar Rp14 juta di minggu pertama — lalu selamatan hari ke-40, ke-100, dan ke-1000 masing-masing sekitar Rp3 juta. Angka lengkapnya, dan cara menyiapkannya, ada di panduan biaya pemakaman.

Dan ini penting: skala boleh menyesuaikan kemampuan. Selamatan dengan teh dan jajan pasar yang dihadiri tetangga dekat sama sahnya dengan yang besar. Dalam tradisi Jawa sendiri ada prinsip ora usah ngoyo — jangan memaksakan diri. Keluarga yang berutang demi jamuan justru menyalahi ruh acaranya.

No. 3Untuk yang diundang: datanglah, terutama yang ke-40

Kalau kamu tamunya, satu hal yang layak diingat: minggu pertama rumah duka ramai, tapi hari ke-40 dan seterusnya makin sepi. Padahal justru di situ kehadiranmu paling terasa. Kalender selamatan pada dasarnya adalah janji untuk kembali — dan cara menemani yang berduka di tiap kunjungan itu sudah kami tulis di panduan ucapan takziah.

INTINYAYang wajib dijaga doanya, bukan jamuannya. Dan bagi tamu: kehadiran di hari ke-40 lebih langka, karena itu lebih berarti.

Pertanyaan yang sering diajukan

Bagaimana cara menghitung hari selamatan orang meninggal?
Hari wafat dihitung sebagai hari pertama — wafat Kamis berarti 3 harinya jatuh Sabtu, 7 harinya jatuh Rabu. Hitungan lengkapnya memakai gabungan hari tujuh dan pasaran lima, dengan rumus warisan seperti lusarlu dan nemsarma — penjelasannya di bagian cara menghitung.
Apa arti selamatan 40 hari (matangpuluh)?
Penanda besar pertama sejak wafat, hampir selalu diselenggarakan. Secara tradisi memaknai tahap kepergian jiwa; secara psikologis bertepatan dengan masa rumah duka mulai sepi — saat keluarga justru paling butuh ditemani.
Apa arti mendhak dan nyewu?
Mendhak = peringatan tahunan (mendhak sepisan tahun pertama, mendhak pindho tahun kedua, dihitung dengan kalender Jawa). Nyewu = hari ke-1000, penutup rangkaian dan biasanya selamatan yang paling besar.
Apa hukum tahlilan dan selamatan dalam Islam?
Ada dua pandangan yang hidup berdampingan: kalangan NU memandangnya sebagai sedekah dan majelis doa yang pahalanya dihadiahkan untuk almarhum; sebagian keluarga lain memilih mendoakan tanpa rangkaian selamatan. Keduanya patut dihormati — penjelasannya di bagian pandangan Islam.
Berapa biaya selamatan dan tahlilan?
Gambaran dari riset kami: ~Rp2 juta per malam untuk tahlilan (±100 tamu), ~Rp3 juta per acara untuk hari ke-40/100/1000. Boleh disesuaikan kemampuan — rincian dan cara menyiapkannya ada di panduan biaya pemakaman.
Apakah selamatan harus tepat di hari hitungannya?
Diusahakan tepat (biasanya malam harinya), tapi bila ada halangan besar banyak keluarga menggesernya sedikit dengan musyawarah. Yang dijaga doanya dan berkumpulnya keluarga, bukan angka di kalender.
Sumber Tradisi lisan & rumus hitungan Jawa (lusarlu, tusaro, masarma, rosarma, patsarpat, nemsarma) — antara lain didokumentasikan Pemdes Jatimulyo Kebumen & kajian tradisi selamatan (ICC UIN Surakarta) · NU Online (kedudukan tahlilan sebagai sedekah & majelis doa) · HR Muslim (amal yang tidak terputus) · HR Abu Dawud & Tirmidzi (makanan untuk keluarga duka) · Riset Sekar: Membayar Perpisahan (2026) — perkiraan biaya tahlilan & selamatan.

Dari pemakaman sampai nyewu, keluarga tidak harus sendirian

Sekar menemani keluarga di Solo Raya mengurus seluruh proses pemakaman — dan membantu merencanakan rangkaian setelahnya dengan biaya yang jelas di muka. Siap dihubungi 24 jam, untuk Muslim dan non-Muslim.

Hubungi Sekar via WhatsApp

Narahubung: Wahyu · +62 877-7111-1177 · sekarfuneral.com